mengapa kita butuh waktu sendirian

sains di balik solitude

mengapa kita butuh waktu sendirian
I

Jumat malam, hujan turun rintik-rintik, dan tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel kita. Isinya singkat: rencana kumpul-kumpul malam ini batal. Coba jujur, apa reaksi pertama yang kita rasakan? Ada sedikit rasa kecewa, tentu saja. Tapi jauh di lubuk hati, bukankah sering kali ada kelegaan yang luar biasa? Kelegaan karena kita akhirnya punya alasan sah untuk melepas pakaian pergi, menggantinya dengan kaus belel, dan tidak melakukan apa-apa. Mari kita jadikan ini sebagai bahan pemikiran bersama. Sebagai makhluk sosial yang konon tidak bisa hidup tanpa orang lain, mengapa sekadar duduk sendirian di kamar bisa terasa seperti sebuah kemewahan yang sangat memuaskan?

II

Selama ini, kita hidup di dunia yang sangat memuja kebersamaan. Sejak kecil, kita diajarkan bahwa punya banyak teman adalah simbol kesuksesan sosial. Makan sendirian di restoran atau menonton bioskop tanpa teman sering kali mengundang tatapan kasihan. Secara historis, wajar jika nenek moyang kita takut sendirian. Di padang sabana purba, terpisah dari kelompok berarti mati dimakan predator. Insting purba ini melahirkan Fear of Missing Out atau FOMO dalam otak kita. Tapi di sisi lain, sejarah juga mencatat anomali yang menarik. Isaac Newton merumuskan teori gravitasi saat ia mengisolasi diri dari wabah. Filsuf seperti Descartes butuh keheningan total untuk bisa berpikir. Ada sebuah paradoks di sini. Di satu sisi biologi kita menjerit ketakutan jika kita ditinggalkan, tapi di sisi lain, pikiran kita yang paling jernih justru muncul saat tidak ada siapa-siapa.

III

Di sinilah kita harus mulai memisahkan dua hal yang sering dicampuradukkan: loneliness (kesepian) dan solitude (kesendirian). Kesepian adalah saat kita merasa terisolasi padahal kita ingin terhubung. Kesendirian adalah saat kita secara sadar memilih untuk tidak bersama siapa-siapa. Kesepian adalah kondisi kekurangan, sedangkan kesendirian adalah kondisi kepenuhan. Teman-teman, sains modern mulai menyadari bahwa tanpa asupan kesendirian yang cukup, kesehatan mental kita sebenarnya sedang berjalan di ujung tanduk. Kita mungkin bertanya-tanya, jika bersosialisasi itu penting untuk kebahagiaan, apa sebenarnya yang terjadi di dalam tengkorak kita saat kita dengan sengaja menutup pintu, mematikan ponsel, dan memilih untuk tenggelam dalam keheningan? Mengapa otak kita butuh jeda dari manusia lain?

IV

Jawabannya terletak pada sebuah jaringan saraf di otak kita yang bernama Default Mode Network (DMN). Penemuan jaringan ini adalah salah satu titik balik dalam neurosains. Dulu, para ilmuwan mengira otak kita akan "beristirahat" saat kita diam dan tidak fokus pada tugas apa pun. Ternyata mereka salah besar. Saat kita sendirian dan tidak melakukan apa-apa—bahkan sekadar menatap langit-langit kamar—DMN justru menyala terang benderang. DMN adalah fasilitas pemrosesan tingkat tinggi milik otak. Saat kita sedang bersosialisasi, otak kita sibuk memproses rangsangan dari luar: membaca ekspresi wajah, membalas obrolan, menjaga citra diri. Kita tidak punya waktu untuk mencerna itu semua. Nah, saat kita berada dalam solitude, DMN mengambil alih. Ia mulai merapikan laci-laci memori kita. Ia menghubungkan pengalaman hari ini dengan ingatan masa lalu. Ia memfasilitasi refleksi diri. Hebatnya lagi, sains menunjukkan bahwa orang yang rutin meluangkan waktu untuk menyendiri justru memiliki tingkat empati yang lebih tinggi saat kembali bergaul. Kenapa? Karena saat sendirian, otak kita akhirnya punya kapasitas untuk memproses emosi kita sendiri, sehingga kita punya energi lebih untuk memahami emosi orang lain. Kita tidak menjauh dari manusia karena kita membenci mereka. Kita menjauh agar kita bisa kembali menjadi manusia yang lebih utuh untuk mereka.

V

Jadi, teman-teman, mari kita ubah cara pandang kita terhadap waktu luang tanpa teman. Memilih untuk menghabiskan akhir pekan sendirian bukanlah tanda bahwa kita antisosial, depresi, atau menyedihkan. Itu adalah bentuk perawatan biologis yang sangat krusial. Otak kita butuh ruang hampa untuk menata ulang kewarasannya. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu terhubung, membalas pesan dalam hitungan detik, dan selalu hadir, memilih untuk "menghilang" sejenak adalah sebuah tindakan radikal yang menyehatkan. Lain kali, saat kita merasa lelah dan hanya ingin duduk sendirian di kafe, nikmatilah momen itu tanpa rasa bersalah. Biarkan otak kita bekerja dalam diam. Terkadang, percakapan paling penting yang perlu kita lakukan bukanlah dengan orang-orang di luar sana, melainkan dengan diri kita sendiri, dalam keheningan yang kita pilih.